News Metro Medan Travel Viral

Setelah 130 Tahun Pithecanthropus Erectus Ditemukan, Museum Nasional Indonesia Pamerkan Fosil Langka

Hilmi Setiawan • Senin, 23 Desember 2024 | 11:19 WIB

 

BUKAN REPLIKA: Pengunjung menyaksikan koleksi pameran purbakala di Museum Nasional Indonesia kemarin (22/12). (HILMI SETIAWAN/JAWA POS)
BUKAN REPLIKA: Pengunjung menyaksikan koleksi pameran purbakala di Museum Nasional Indonesia kemarin (22/12). (HILMI SETIAWAN/JAWA POS)

JawaPos.com – Pameran purbakala yang digelar di Museum Nasional Indonesia (MNI), atau yang dikenal sebagai Museum Gajah, menarik perhatian besar dari masyarakat. Untuk pertama kalinya, sejumlah fosil asli manusia purba dipamerkan, menambah nilai eksklusif dari acara tersebut.

Pameran bertajuk “Indonesia, The Oldest Civilization on Earth? 130 Years After Pithecanthropus Erectus” itu diadakan untuk memperingati 130 tahun penemuan fosil manusia purba Pithecanthropus erectus. Acara ini berlangsung mulai 21 Desember 2024 hingga 20 Januari 2025 dan menampilkan koleksi dari berbagai institusi, termasuk Museum Geologi Bandung, Situs Sangiran, Museum Mpu Tantular, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Salah satu koleksi yang menjadi pusat perhatian adalah tengkorak Homo erectus yang diberi kode S-17. Fosil ini diklaim sebagai fosil Homo erectus paling lengkap di dunia. Selain itu, pameran juga menyuguhkan temuan fosil fauna purba seperti Mastodon dan Stegodon. Kehadiran fosil-fosil fauna tersebut memperkaya narasi tentang ekosistem Nusantara di masa lampau, memberikan gambaran lebih utuh tentang kehidupan manusia purba dan lingkungannya.

Diresmikan oleh Menteri Kebudayaan

Pameran ini secara resmi dibuka oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada Jumat malam (20/12). Dalam sambutannya, Fadli menekankan pentingnya peran Indonesia sebagai salah satu pusat evolusi manusia purba di dunia.

“Sebaran fosil manusia purba di Indonesia menempatkan Nusantara sebagai salah satu pusat adaptasi dan evolusi hominin awal,” ujar Fadli. Ia menambahkan bahwa kemampuan manusia purba untuk bertahan di Nusantara mencerminkan adaptasi luar biasa mereka terhadap lingkungan yang berubah secara dinamis.

Menurutnya, penemuan fosil-fosil ini memberikan perspektif baru tentang peran Nusantara dalam sejarah evolusi manusia. “Narasi ini menegaskan bahwa Nusantara adalah titik awal penting dalam bab besar evolusi manusia,” imbuhnya.

Fosil Asli, Bukan Replika

Hal lain yang menarik perhatian dari pameran ini adalah ditampilkannya sejumlah fosil asli, berbeda dari pameran-pameran sebelumnya yang umumnya hanya menghadirkan replika. Fadli menyoroti bahwa kehadiran fosil asli, seperti tengkorak Homo erectus, menunjukkan betapa istimewanya peran Pulau Jawa dalam sejarah manusia purba.

“Fakta bahwa 60 persen fosil Homo erectus ditemukan di Jawa menegaskan bahwa Indonesia adalah rumah Homo erectus,” ujarnya. Selain itu, koleksi fosil fauna purba yang dipamerkan juga mengungkap adanya habitat yang kompleks di masa lampau, menunjukkan interaksi manusia purba dengan ekosistem sekitarnya.

Pameran ini diharapkan tidak hanya memberikan wawasan baru bagi pengunjung, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat penting dalam studi evolusi manusia purba dunia.

Editor : Ilham Safutra
#homo erectus #Menteri Kebudayaan #Pithecanthropus erectus #fadli zon #manusia purba #Museum Nasional Indonesia