JawaPos.com – Kebiasaan mem-posting pasangan secara berlebihan di media sosial seringkali dianggap sebagai tanda cinta dan kebahagiaan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kenyataannya bisa sangat berbeda.
Studi yang dilakukan oleh Northwestern University mengungkapkan bahwa pasangan yang sering membagikan momen kemesraan di media sosial justru mungkin menyembunyikan ketidakamanan dalam hubungan mereka.
Sebaliknya, pasangan yang benar-benar bahagia lebih memilih menjaga hubungan mereka tetap pribadi tanpa merasa perlu memamerkan kebahagiaan kepada publik. Ini mencerminkan kepercayaan diri mereka dalam hubungan tanpa perlu validasi dari orang lain.
Dilansir dari Inc.com, terdapat empat kecenderungan kurang baik yang biasanya dimiliki oleh orang-orang yang terlalu sering mem-posting pasangannya di media sosial. Berikut ulasannya:
-
Meyakinkan Orang Lain Bahwa Hubungan Mereka Bahagia
Banyak pasangan yang aktif mem-posting momen romantis di media sosial sebenarnya berusaha meyakinkan diri mereka sendiri bahwa hubungan mereka berjalan baik. Foto dan caption manis yang mereka unggah sering kali digunakan untuk menciptakan ilusi kebahagiaan kepada publik. Namun, kenyataannya, hubungan tersebut mungkin sedang menghadapi masalah serius. -
Kecenderungan Narsistik dan Psikopatik
Studi terhadap 800 pria berusia 18 hingga 40 tahun menunjukkan bahwa orang yang sering mem-posting selfie, terutama dengan pasangan, memiliki kecenderungan narsisme dan psikopati. Narsisme ini ditandai dengan kebutuhan akan perhatian dan pengakuan dari orang lain. Orang narsistik sering kali mengedit fotonya agar terlihat lebih sempurna sebelum mengunggahnya. Psikolog Brad Bushman dari Ohio State University bahkan menyebut narsisme sebagai sifat yang berbahaya dalam sebuah hubungan. -
Rasa Minder dalam Hubungan
Peneliti dari Northwestern University menemukan bahwa orang yang sering mem-posting tentang pasangannya sebenarnya merasa tidak aman dalam hubungan tersebut. Kebiasaan ini menjadi cara untuk mencari validasi eksternal, menggantikan rasa percaya diri yang seharusnya dibangun dalam hubungan. -
Kurangnya Kepuasan dalam Kehidupan Pribadi
Pasangan yang bahagia tidak merasa perlu membuktikan kebahagiaan mereka kepada dunia. Mereka tidak butuh validasi dari like atau komentar untuk merasa puas dalam hubungan. Sebaliknya, mereka merasa cukup dengan hubungan mereka sendiri tanpa harus membagikannya secara berlebihan di media sosial.
Pasangan yang sering membagikan momen kemesraan mungkin melakukannya untuk alasan yang tidak sepenuhnya sehat. Menurut psikologi, kebiasaan ini dapat mencerminkan rasa minder, kebutuhan untuk menutupi masalah, atau bahkan kecenderungan narsistik.
Alih-alih fokus pada validasi di media sosial, penting untuk membangun hubungan yang kuat dan autentik di dunia nyata. Validasi sejati berasal dari hubungan yang sehat, bukan dari jumlah like atau komentar di media sosial.
Editor : Dhimas Ginanjar