News Metro Medan Travel Viral

Jokowi Tanggapi Kontroversi Lukisan Yos Suprapto, Tegaskan Seni Adalah Kebebasan Ekspresi

Dhimas Ginanjar • Sabtu, 28 Desember 2024 | 16:51 WIB

 

 

Lukisan Yos Sudarso yang memicu konflik karena disebut-sebut mirip dengan Presiden Ke-7 Jokowi. (Istimewa)
Lukisan Yos Sudarso yang memicu konflik karena disebut-sebut mirip dengan Presiden Ke-7 Jokowi. (Istimewa)

JawaPos.com – Presiden ke-7 Indonesia Joko Widodo (Jokowi) akhirnya memberikan tanggapan terkait pembatalan mendadak pameran lukisan Yos Suprapto di Galeri Nasional, Jakarta. Polemik ini menuai sorotan publik karena dianggap mencederai kebebasan berekspresi dalam dunia seni.

Jokowi menegaskan bahwa seni adalah salah satu bentuk kreativitas yang mencerminkan aspirasi politik dan harus dihormati dalam sebuah negara demokrasi. Ia mengungkapkan bahwa kritik melalui seni, termasuk jika ada karya yang dianggap menyerupai dirinya, adalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu ditanggapi dengan kekhawatiran.

"Saya baru mendengar informasi ini dari Mas Syarif tadi siang. Menurut saya, seni adalah ekspresi kreativitas dan aspirasi politik yang wajib dihormati. Jika kita benar-benar menjunjung demokrasi, pameran semacam itu tidak perlu jadi masalah," ujar Jokowi di Solo, Jumat (27/12).

Pembatalan pameran bertajuk Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan ini telah memicu reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk seniman dan aktivis kebebasan berekspresi. Yos Suprapto, sang seniman, menyatakan bahwa keputusan Galeri Nasional untuk meminta penurunan lima dari 30 lukisannya sangat merusak narasi utama pameran.

"Saya diminta menurunkan lima lukisan yang katanya tidak sesuai dengan tema pameran. Padahal, karya-karya itu adalah bagian penting dari narasi tentang kedaulatan pangan," jelas Yos, Jumat (20/12).

Sebagai bentuk kompromi, Yos bahkan sempat menutup dua lukisan dengan kain hitam. Namun, permintaan lebih lanjut untuk menurunkan tiga karya lainnya membuatnya memutuskan menarik seluruh koleksi yang akan dipamerkan.

Menurut Yos, kurator seperti merasa takut terhadap tekanan politik. "Saya merasa kurator seperti takut terhadap tekanan politik. Padahal, belum ada yang melihat langsung lukisannya, termasuk Menteri Kebudayaan," imbuhnya.

Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, menilai bahwa dua dari karya Yos dianggap tidak sesuai dengan tema kuratorial. Lukisan-lukisan tersebut dinilai terlalu eksplisit dan mengaburkan pesan utama yang ingin disampaikan melalui pameran ini.

"Karya tersebut cenderung seperti makian yang terlalu vulgar. Metaforanya hilang, padahal kekuatan seni justru terletak pada simbolisme yang kuat," ujar Suwarno dalam pernyataan tertulis.

Menanggapi situasi tersebut, Jokowi menyerukan pentingnya menghormati kreativitas seniman sebagai bagian dari dinamika demokrasi. Ia juga mengingatkan agar kebebasan berekspresi tidak dikekang dengan alasan yang tidak jelas.

"Saya belum tahu pasti alasan pembatalannya, tapi kreativitas harus dihargai. Kalau ada kritik, itu bagian dari dinamika demokrasi. Jangan sampai kebebasan seni justru terancam," tegas Jokowi.

Dengan polemik ini, para seniman dan pendukung kebebasan berekspresi berharap agar pembatalan pameran seperti ini tidak kembali terulang dan seni tetap menjadi media untuk menyampaikan aspirasi secara bebas dan kreatif.

Editor : Dhimas Ginanjar
#Pemeran #galeri nasional #lukisan #yos sudarso #jokowi