JawaPos.com - Media sosial kerap menjadi tempat berkembangnya stereotip gender, termasuk dalam cara masyarakat memandang laki-laki yang sering memposting di platform digital.
Penelitian terbaru yang dikutip dari Theconversation.com, Rabu (6/11), menunjukkan bahwa pria yang aktif memposting di media sosial cenderung dianggap lebih feminin. Fenomena ini disebut sebagai "stereotipe feminitas yang sering memposting."
Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 1.300 responden dari Amerika Serikat dan Inggris dalam empat eksperimen. Hasilnya menunjukkan bahwa siapa pun yang sering memposting di media sosial dianggap mencari perhatian dan validasi. Namun, bagi pria, perilaku ini lebih sering dikaitkan dengan sifat feminin.
Stereotip Gender di Media Sosial
Penelitian ini mengungkap bahwa norma-norma sosial yang diperkuat oleh media dan budaya populer terus memengaruhi persepsi masyarakat. Banyak iklan, acara TV, film, dan musik yang menggambarkan pria sebagai sosok tabah dan mandiri.
Oleh karena itu, ketika pria terlihat sering memposting di media sosial, perilaku tersebut dianggap bertentangan dengan stereotip maskulinitas yang ideal.
Menariknya, bias ini tetap ada bahkan dalam konteks tertentu. Dua eksperimen tambahan dilakukan untuk mencoba mengekang stereotip ini, namun hasilnya menunjukkan hal yang sebaliknya.
Dalam eksperimen pertama, para peneliti mengamati bagaimana pria dinilai ketika membagikan konten tentang orang lain dibandingkan konten tentang diri sendiri. Ternyata, perilaku sering memposting tetap dianggap sebagai bentuk pencarian validasi.
Eksperimen kedua meneliti influencer pria yang aktif memposting untuk alasan profesional. Lagi-lagi, meski ada alasan profesional yang jelas, responden tetap menilai kebiasaan memposting tersebut sebagai tanda feminitas.
Peran Budaya dalam Stereotip
Budaya memiliki peran besar dalam membentuk persepsi ini. Pria yang aktif di media sosial sering dianggap mencari perhatian, sebuah karakteristik yang selama ini lebih sering diasosiasikan dengan perempuan. Meski konteks mempostingnya berbeda, efek stereotip tetap melekat.
Penelitian ini menyoroti bahwa media sosial, alih-alih menjadi ruang netral, justru memperkuat stereotip gender yang sudah ada. Hal ini menunjukkan perlunya upaya untuk mendekonstruksi norma-norma sosial yang membatasi, agar media sosial bisa menjadi tempat yang inklusif untuk semua pengguna, terlepas dari gender mereka.
Editor : Dhimas Ginanjar